Header Ads

test

Breaking News

Metode Alif Laam Miim

Metode Alif Laam Miim adalah cara belajar membaca lafadz-lafadz Al-Qur’an sesuai dengan tuntunan ilmu tajwid untuk mencapai bacaan yang tartil secara mudah, tepat, dan menyenangkan. Metode ini lahir sebagai jawaban atas banyaknya orang yang kurang mampu membaca lafadz-lafadz Al-Qur’an secara baik dan benar, sebagaimana yang diajarkan dalam ilmu tajwid. Metode ini disusun oleh Moh. Najib Zaini sejak tahun 1990-an akhir, namun baru diluncurkan oleh Bait Ahlil Qur’an pada akhir tahun 2006 karena padatnya kegiatan yang dilaksanakan.

Metode Alif Laam Miim ini merupakan hasil perenungan panjang Moh. Najib Zaini atas pengalamannya dalam mengajar membaca Al-Qur’an sejak usia remaja, di kampung halamannya di Gresik hingga melanglang buana ke Bandung, Depok, dan Malaysia. Dari perenungan panjang tersebut, Moh. Najib Zaini banyak menemukan orang-orang membaca Al-Qur’an yang suka memanjang-panjangkan bacaannya, baik disengaja karena mengikuti lagu yang diinginkan maupun tidak sengaja karena ketidaklancarannya, padahal huruf-huruf itu harus dibaca pendek (satu harakat). Selain itu, dia juga banyak menemukan anak-anak yang cenderung susah mengenali dan membaca huruf-huruf hijaiyah akibat sudah hafalnya urutan huruf hijaiyyah sebelum belajar membaca huruf-huruf tersebut. Dan masih banyak lagi persoalan-persoalan terkait dengan bacaan Al-Qur’an yang tidak sesuai dengan kaidah ilmu tajwid, seperti makharij dan sifatul huruf, hukum tanwin,  hukum nun dan mim mati, waqaf dan ibdtida’, dan seterusnya.

Dari perenungan tersebut, Moh. Najib Zaini menilai bahwa akar dari persoalan tersebut terletak pada metode belajar membaca Al-Qur’an yang ada waktu itu. Oleh karena itu, Moh. Najib Zaini mencoba menawarkan metode Alternatif yang diberi nama Metode Alif Laam Miim. Nama Metode Alif Laam Miim ini terinspirasi dari sebuah hadits Nabi Muhammad yang berbunyi:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ قَرَأَ حَرْ�?ًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ �?َلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْ�?ٌ وَلَكِنْ أَلِ�?ٌ حَرْ�?ٌ وَلَامٌ حَرْ�?ٌ وَمِيمٌ حَرْ�?ٌ”.

“Dari Abdullah Bin Mas’ud RA, berkata Rasullah SAW bersabda: Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf.” (Shahih HR.Tirmidzi)

Metode Alif Laam Miim dikemas dalam buku yang terdiri atas 3 (tiga) jilid. Setiap jilid buku Metode Alif Laam Miim terdiri atas beberapa bab yang ringkas. Kemasan buku tersebut dirancang untuk memberikan semangat dan dorongan pada peserta didik untuk belajar membaca Al-Qur’an mudah, tepat, dan menyenangkan. Adapun isi materi dalam ketiga jilid tersebut adalah sebagai berikut:

Metode Alif Laam Miim Jilid I (Satu)

Materi yang termuat dalam buku jilid I (satu) merupakan pengenalan awal huruf-huruf hijaiyyah yang berharakat hidup (fathah, kasrah, dan dlammah). Pengenalan ini diawali dengan pengenalan huruf-huruf hijaiyyah berharakat fathah yang bersumber dari kalimat salam. Dengan demikian, huruf-huruf pertama yang dikenalkan dimulai dari huruf Alif berharakat fathahuntuk dibaca A, Sin berharakat fathah untuk dibaca Sa, Lam berharakat fathah untuk dibaca La, dan seterusnya.

Setelah huruf-huruf hijaiyyah berharakat dalam jilid I (satu) tersebut dikenalkan dalam bentuk huruf yang terpisah-pisah antara 2 – 3 huruf, selanjutnya dikenalkan dalam bentuk huruf-huruf yang dirangkai. Dalam pengenalan huruf-huruf berangkai tersebut juga dikenalkan harakat-harakat lainnya yang hidup, baik huruf berharakat satu maupun huruf berharakat ganda (harakatain): fathah, kasrah, dlammah, fathatain, kasratain, dan dlammatain. Pengenalan huruf-huruf berangkai tersebut dikenalkan secara bertahap: mulai dari 3 (tiga) huruf hingga 8 (delapan) huruf sekaligus yang bersumber dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Model pembelajaran yang termaktub dalam buku jilid I (satu) tersebut dimaksudkan agar:
  1. Peserta didik dapat mengenali huruf-huruf hijaiyyah yang merujuk pada bentuk huruf, bukan karena pengaruh hafalan urutan abjad seperti pada umumnya.
  2. Peserta didik terlatih untuk membunyikan huruf berharakat satu dan tidak memanjangkan bacaannya.
  3. Peserta didik terlatih membaca suatu rangkaian huruf yang berisi hingga 8 (delapan) huruf sekaligus secara lancar (tidak terbata-bata).


Metode Alif Laam Miim Jilid II (Dua)

Setelah pengenalan bentuk huruf-huruf hijaiyyah beserta harakat dan bunyi bacaannya, buku jilid II (dua) dikenalkan mengenai harakat sukun (mati) beserta perubahan bunyi bacaan akibat harakat sukun, baik yang ditemukan dengan sebelum maupun sesudah huruf berharakat hidup. Pengenalan huruf berharakat sukun ini dimulai pada huruf-huruf berharakat sukun yang paling sering muncul dalam Al-Qur’an dan tidak mengalami perubahan bacaan yang lebih jauh akibat adanya harakat sukun. Nun berharakat sukun merupakan huruf bersukun yang pertama dikenalkan dalam buku jilid II (dua) ini, karena bunyi Nun berharakat sukun ini memiliki kesamaan bunyi dengan huruf berharakat ganda (harakatain)  yang dikenalkan dalam materi akhir jilid I (satu). Selanjutnya, dalam buku jilid II (dua) ini juga dikenalkan dengan huruf-huruf berharakat sukun yang mengalami perubahan bunyi qalqalah (memantul) dan mad (panjang).

Bunyi bacaan yang dipanjangkan (mad) dimasukkan dalam bagian paling akhir dari materi buku jilid II (dua), karena sesungguhnya bacaan mad diakibatkan adanya harakat sukun pada huruf-huruf mad (Alif berharakat sukun, Yaa berharakat sukun, dan Waw berharakat sukun). Rangkaian huruf-huruf yang dikenalkan dalam buku jilid II (dua) ini sudah dalam bentuk lafadz-lafadz pendek, yang terdiri atas 3 (tiga) huruf, dan rangkaian lafadz-lafadz panjang, yang terdiri atas 16 (enam belas) huruf sekaligus yang bersumber dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Model pembelajaran yang termaktub dalam buku jilid II (dua) tersebut dimaksudkan agar:

  1. Peserta didik dapat membedakan perubahan bunyi bacaan huruf-huruf akibat adanya harakat sukun (mati).
  2. Peserta didik terlatih untuk tetap membunyikan bacaan pendek terhadap huruf berharakat satu
  3. Peserta didik dapat memanjangkan bacaannya dua harakat terhadap huruf-huruf yang bertemu huruf mad (Alif berharakat sukun, Yaa berharakat sukun, dan Waw berharakat sukun)
  4. Peserta didik terlatih membaca suatu rangkaian lafadz yang berisi hingga 16 (enam belas) huruf sekaligus secara lancar (tidak terbata-bata).


Metode Alif Laam Miim Jilid III (Tiga)

Setelah dikenalkan mengenai harakat sukun (mati) beserta perubahan bunyi bacaan akibat harakat sukun, dalam buku Jilid III (tiga) dikenalkan mengenai harakat tasydid, jenis-jenis huruf yang bisa  berubah menjadi mendengung dan tidak mendengung, serta pengnelan jenis dan cara menghentikan bacaan (waqaf). Buku Jilid III (tiga) ini merupakan buku terakhir metode Alif Laam Miim. Oleh karena itu, dalam buku ketiga ini seluruh jenis tanda yang ada dalam mushaf Al-Qur’an dikenalkan, termasuk tanda-tanda waqaf. Sedangkan huruf-huruf yang diperkenalkan dalam buku ini sudah pada tahap rangkaian-rangkaian lafadz hingga kalimat dan ayat-ayat Al-Qur’an.

Model pembelajaran yang termaktub dalam buku jilid III (tiga) tersebut dimaksudkan agar:

  1. Peserta didik dapat membedakan jenis dan cara menghentikan bacaan (waqaf)
  2. Peserta didik dapat membedakan jenis dan cara membaca huruf yang harus dibaca mendengung dan tidak mendengung.
  3. Peserta didik terlatih untuk membunyikan bacaan sesuai dengan ilmu tajwid.
  4. Peserta didik sudah siap membaca seluruh mushaf Al-Qur’an secara baik dan benar.

Tidak ada komentar