Rombongan yang dipimpin langsung oleh Ustadz Muhammad Najmi ini tidak sekadar bertukar budaya, tetapi juga mendalami metodologi pengajaran Al-Qur’an khas Nusantara yang dikembangkan oleh Pengasuh BAQ, KH. Moh. Najib Zaini.
Selama berada di BAQ, para santi Malaysia mengikuti serangkaian program intensif. Selain sesi taaruf dan perkenalan dengan struktur kepengurusan pondok, mereka juga duduk sekelas dengan santri lokal dalam pelajaran ilmu tajwid dan taranum (seni baca Al-Qur’an).
Yang menjadi sorotan utama adalah partisipasi mereka dalam pelatihan pengajaran metode baca Al-Qur’an Alif Laam Miim, sebuah metode orisinal karya KH. Moh. Najib Zaini yang dikenal sistematis dalam memperbaiki bacaan Al-Qur’an sejak dasar.
"Kami tidak hanya belajar membaca, tapi juga diajari bagaimana mengajarkan Al-Qur’an dengan metode yang terstruktur. Ini pengalaman yang jarang kami temukan di tempat lain," ujar Ustadz Muhammad Najmi ketika ditemui di sela-sela acara penutupan, Jumat (27/6/2025).
Program kunjungan tidak melulu di dalam ruang kelas. Rombongan juga diajak melakukan rihlah (wisata religi dan sejarah) ke sejumlah ikon Jakarta. Mereka mengunjungi Masjid Istiqlal sebagai simbol kemegahan Islam di Asia Tenggara, serta Tugu Monas (Monumen Nasional) untuk mengenal sejarah perjuangan Indonesia.
Untuk mengenalkan keberagaman budaya, para santri Malaysia juga diajak mencicipi kuliner khas Indonesia, seperti sate, rendang, dan aneka jajanan pasar. Tak ketinggalan, kegiatan olahraga digelar untuk mencairkan suasana, mulai dari bulu tangkis di halaman pondok hingga pertandingan futsal persahabatan.
KH. Moh. Najib Zaini, Pengasuh Ponpes BAQ, menyambut antusias kedatangan rombongan dari Malaysia. Menurutnya, kunjungan ini adalah wujud nyata dari silaturahim qur'ani yang harus terus dipelihara, terutama di antara para guru dan santri yang memiliki mata rantai sanad keilmuan yang sama.
"Ini bukan sekadar kunjungan studi. Ini adalah upaya menjaga ketersambungan sanad dan silaturahim antaraguru mengaji. Siapa pun yang datang dengan niat belajar Al-Qur’an, rumah kami terbuka lebar," tegas Kiai Najib.
Menariknya, kunjungan ini memiliki dimensi historis yang mendalam. Ustadz Muhammad Najmi, sang ketua rombongan, ternyata merupakan santri lama KH. Moh. Najib Zaini saat beliau mengajar di Al-Imam Internasional Institute, Selangor, Malaysia, beberapa tahun silam. Kini, Najmi kembali berguru dan membawa anak didiknya sendiri ke Indonesia.
"Saya dulu belajar tahfidz kepada Abah Kiai Najib di Malaysia. Sekarang saya bawa santri-santri saya ke sini agar mereka juga merasakan keberkahan ilmunya. Terima kasih tak terhingga atas sambutan hangat BAQ," tutur Najmi penuh haru di akhir acara.
Kegiatan yang berlangsung selama 18 hari ini ditutup dengan doa bersama dan pemberian cendera mata, menandai eratnya tali persaudaraan antara dua lembaga tahfidz serumpun Melayu, yang dipisah lautan namun disatukan oleh Al-Qur'an.

