Header Ads

test

Breaking News

Membaca Al-Qur'an Bertajwid: Telaah Dimensi Sosiokultural di Indonesia

Oleh: Sahlul Fuad
Dosen Institut PTIQ Jakarta

Abstrak:

Paper ini mengidentifikasi dan mengelaborasi dimensi sosiokultural terkait dengan perkembangan pengajaran membaca Al-Qur’an bertajwid di Indonesia, yang bukan nativ Arab. Pendekatan yang dipergunakan dalam mengelaborasi praktik membaca Al-Qur’an secara bertajwid ini menggunakan pendekatan sosiokultural, di mana praktik membaca Al-Qur’an bertajwid ini sudah terjadi selama berabad-abad berlangsung. Dengan pendekatan ini sekaligus mengintrepretasikan norma-norma dan praktik-praktik di tengah masyarakat. Pendekatan ini lebih untuk mendapatkan pemahaman aspek sosiokulturalnya daripada aspek doktrin keagamaan yang selama ini biasa dikaji oleh para sarjana Islam pada umumnya.

This paper identifies and elaborates on socio-cultural dimensions associated with the development of the teaching of reciting the Qur'an by tajweed rules in Indonesia, which is not natively Arab. Identification and elaboration of this reciting the Quran by tajweed rules practices use socio-cultural approach, in which the practice of reciting the Qur'an is already going on for centuries. With this approach also directly to examine and to interpret the norms ​​and practices about reciting the Quran by tajweed rules in the community. This approach is more to gain understanding of the socio-cultural aspects rather than aspects of religious doctrines that have unusual studied by scholars of Islam in general.

“Bacalah Al-Qur’an secara tartil”
 “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Pendahuluan

Indikator utama keberhasilan sistem pengajaran membaca Al-Qur’an, selain dilihat dari keberhasilan peserta didik dalam mengenal dan mengucapkan huruf-huruf hijaiyah, yang tidak kalah penting adalah kemampuan peserta didik dalam membaca Al-Qur’an dengan bertajwid. Tajwid adalah satu bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem membaca Al-Quran, sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad hingga akhir zaman. Walaupun para ulama sepakat bahwa mempelajari Ilmu Tajwid adalah fardlu kifayah dan membaca Al-Qur’an dengan bertajwid adalah fardlu ain, namun jumlah orang yang membaca Al-Qur’an dengan bertajwid jauh lebih sedikit dibandingkan dengan seluruh pembaca Al-Qur’an pada umumnya (Zaini, 2011: 5-6).

Umat Islam Indonesia, sebagai kelompok masyarakat yang tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa Ibu, tentu mempunyai problem tersendiri ketika dimasukkan sebagai kelompok masyarakat yang penerima kewajiban untuk membaca Al-Qur’an yang menggunakan bahasa Arab dengan bertajwid. Bukan hanya umat Islam Indonesia, bahkan masyarakat bangsa-bangsa lain yang menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Ibu, juga belum tentu bisa menjalankan kewajiban membaca Al-Qur’an dengan bertajwid (Denny, 1989: 16).

Ketika Al-Qur’an diturun kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril AS sebenarnya telah melekat juga pengajaran tajwid dalam satu paket penyampaian wahyu Allah itu, meskipun hanya dalam praktik, belum ada teori atau kaidahnya. Setelah itu, Rasulullah SAW mengajarkan kepada para sahabat-sahabatnya sebagaimana yang telah dipelajarinya dari malaikat Jibril AS. Kemudian para sahabat mengajarkan kepada para Tabiin, dan seterusnya hingga sanad para guru hingga sekarang masih tersambung (Fathoni, TT). Oleh karena itu, pembacaan Al-Qur’an dengan bertajwid sejak zaman Rasulullah masih hidup hingga sekarang masih tetap terjaga dengan baik secara tradisional.

Kewajiban membaca Al-Qur’an bertajwid tampaknya bukan hanya didukung oleh dalil-dalil tentang wajibnya membaca Al-Qur’an dengan bertajwid, namun juga memiliki dimensi sosiokultural sehingga tradisi membaca Al-Qur’an bertajwid tetap bisa berlangsung dengan baik. Apalagi membaca Al-Qur’an merupakan bagian dari kewajiban umat Islam ketika menjalankan kewajiban salat lima waktu. Persoalannya adalah apa saja aspek sosiokultural yang berpengaruh penting dalam mempertahankan tradisi membaca Al-Qur’an bertajwid di Indonesia, yang tidak menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa Ibu? Bagaimana masyarakat Indonesia mengembangkan strategi membaca Al-Qur’an bertajwid dan memperluas jangkauannya? Faktor sosiokultural masyarakat yang seperti apa yang bisa menerima dan menjalankan kewajiban membaca Al-Qur’an bertajwid? Tulisan ini mencoba mengidentifikasi dan mengelaborasi dimensi sosiokultural yang menunjang perkembangan pengajaran membaca Al-Qur’an bertajwid di Indonesia.

Pendekatan Sosiokultural

Untuk melihat nilai-nilai, norma, dan praktik membaca Al-Qur’an bertajwid ini saya mencoba menggunakan pendekatan sosiokultural. Pendekatan ini memang sudah lazim dipergunakan dalam ilmu-ilmu sosial untuk menelaan praktik keagamaan. Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu praktik keagamaan dalam agama Islam. Salah satu doktrin dalam agama Islam adalah mengenai keutamaan orang-orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an. Doktrin ini menjadi salah satu dasar penyebaran dan pewarisan kultural membaca Al-Qur’an bertajwid, baik secara lisan maupun tulisan. Dengan pendekatan ini saya ingin mengelaborasi praktik membaca Al-Qur’an secara bertajwid yang sudah terjadi selama berabad-abad berlangsung, sekaligus mengintrepretasikan antara nilai-nilai dan praktik-praktik di tengah masyarakat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam dari aspek sosiokulturalnya daripada aspek doktrin keagamaan yang selama ini biasa dikaji oleh para sarjana Islam (Geertz, 1973:18).

Pendekatan sosiokultural terhadap nilai-nilai dan praktik membaca Al-Qur’an bertajwid ini, saya akan melihat dua faktornya, yaitu faktor sosial dan faktor kultural. Konsep pokok dalam faktor sosial adalah struktur sosial, pola hubungan soial antar-individu, antar kelompok, antargolongan, antarsektor kehidupan, atau antara kota dan desa. Sedangkan konsep konsep pokok dalam faktor kultural adalah hal ihwal yang berkaitan dengan kultur (budaya). Di sini budaya diartikan sebagai aturan-aturan yang mempengaruhi pola hubungan sosial antar individu atau kelompok. Di antara yang termasuk faktor kultural adalah mentalitas masyarakat, adat istiadat, kepercayaan, nilai, pandangan hidup dan sebagainya (Marzali, 2005:83-85).

Membaca Al-Qur’an bertajwid merupakan salah satu ajaran dalam Islam yang memiliki aspek kultural dan sekaligus aspek sosial. Di mana dalam praktik membaca Al-Qur’an bertajwid terdapat nilai-nilai keagamaan yang diajarakan secara terus menerus dari generasi ke generasi yang menjadi tradisi. Menurut Ruth Bennedict (1960), adat kebiasaan tradisional di seluruh dunia merupakan serangkaian perbuatan-perbuatan khusus yang sangat menakjubkan, jauh melebihi yang bisa dihasilkan dalam perbuatan-perbuatan individu, betapapun luar biasa kelakuan individu itu. Meski hal itu belum mengenai pokok persoalannya, dan yang pokok adalah peranan utama adat kebiasaan terhadap pengalaman dan kepercayaan, serta bentuk-bentuk yang dimanifestasikan (1960:15).

Kewajiban Membaca Al-Qur’an dan Bertajwid

Keyakinan dalam beragama merupakan salah satu aspek kultural universal dalam semua agama yang menjadi sorotan dalam kajian kebudayaan. Dalam semua teori agama, semua pakar sependapat bahwa apapun keyakinan atau ritualnya, agama apapun memberikan kenyamanan bagi kebutuhan psikologis seluruh masyarakat (Ember dan Ember, 2007:463). Bagaimana doktrin keagamaan tentang kewajiban bertajwid ketika membaca Al-Qur’an akan menjadi keyakinan bagi umat Islam yang harus diyakini, ditaati, dan dijalankan? Bagaimana nilai-nilai dari ajaran membaca Al-Qur’an bertajwid dapat memberikan perasaan ketenangan pada kejiwaan dari segala ancaman bagi masa depannya?

Keimanan umat Islam kepada kitab Al-Qur’an bukan saja diwujudkan dalam bentuk pengakuan terhadap keberadaan Al-Qur’an semata, tetapi juga dilaksanakan dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Memang tidak ada ketentuan yang mewajibkan bagi umat Islam untuk membaca seluruh ayat Al-Qur’an 30 juz dalam seumur hidup, kecuali kewajiban untuk membaca Al-Qur’an yang dianggap mudah (QS Al-Muzzammil: 20). Selain itu terdapat kewajiban membaca surat Al-Fatihah, yang merupakan bagian dari Al-Qur’an, sebagai bagian dari rukun sahnya menjalankan kewajiban salat, yang merupakan rukun Islam kedua setelah membaca dua kalimat syahadat. Selain untuk kepentingan menjalankan salat lima waktu, membaca Al-Qur’an secara keseluruhan lebih bersifat sebagai anjuran (sunnah), bahkan cara Rasulullah menganjurkan membaca Al-Qur’an ini diikuti dengan iming-iming pahala yang besar, seperti dalam hadits:

من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول ألم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف

Dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa membaca satu huruf dari Quran, dia akan memperoleh satu kebaikan. Dan kebaikan itu akan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf." (HR Tirimizy dan Baihaqi).

Atas dasar tidak adanya kewajiban membaca Al-Qur’an secara keseluruhan, 30 juz, motivasi umat Islam dalam menjalankan ibadah membaca Al-Qur’an ini tentu berbeda dengan motivasi dalam menjalankan ibadah-ibadah yang benar-benar diwajibkan dan menjadi rukun Islam. Memang tidak ancaman khusus bagi umat Islam yang tidak pernah mengkhatamkan Al-Qur’an, seperti ancaman bagi orang-orang yang tidak menjalankan salat, puasa, dan zakat. Padahal sebenarnya prinsip-prinsip dasar ajaran Islam terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an tersebut.

Meski demikian, ketika seseorang membaca Al-Qur’an maka ia terkenai kewajiban untuk membaca Al-Qur’an dengan bertajwid (Ahmad Al-Jazary, 1309H: 16). Dalil kewajiban membaca tajwid ini merupakan hasil kesepakatan para ulama atas tafsir perintah membaca Al-Qu'an secara tartil (warattilil qur'ana tartila) (QS Al-Furqon 32; Al-Muzammil 4), walaupun ada juga yang berpendapat bahwa tartil di sini lebih bermakna perlahan-lahan dalam rangka menghayati kandungan (tadabbur ma'na). Meski demikian menurut Ibnu Al-Jazary, sebagaimana mengutip ungkapan Ali bin Abi Thalib bahwa konsep tartil berarti tajwidul huruf wama’rifatul wuquf (mentajwidkan huruf-huruf dan mengetahui tempat-tempat berhenti) dalam membaca Al-Qur’an. Mentajwidkan huruf-huruf dipahami sebagai membunyikan huruf sesuai dengan tempat keluar huruf (makhraj al-huruf) dan karakter-karakter bunyi huruf (wa shifatu al-huruf) bahasa Arab, sebagaimana yang dalam Al-Qur’an (Ahmad, 1309H: 16).

Setidak terdapat empat alasan penting setiap muslim diwajibkan membaca Al-Qur’an dengan bertajwid, antara lain: pertama, karena terdapat perintah Allah SWT untuk membaca Al-Qur’an dengan Tartil (QS. Al-Muzammil ayat 4; Al-Furqan ayat 32), membaca Al-Qur’an sesuai yang diajarkan Allah kepada Jibril, dan Jibril kepada Muhammad (QS. Al-Qiyamah ayat 18); kedua, menjaga keaslian dan kemurnian Al-Qur’an; ketiga karena ada anjuran Rasulullah SAW agar membaca Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya bacaan (haqqu al-tilawah); dan keempat untuk mendapatkan kesempuranaan keutamaan membaca Al-Qur’an (Zaini, 2011:9-16). Adapun ancaman bagi orang yang tidak membaca Al-Qur’an dengan bertajwid menurut Muhammad Ibnu Muhammad Al-Jazary adalah “berdosa”, dan akan mendapat laknat dari Allah SWT (Ahmad, 1309H: 16).

Namun demikian, ada banyak ajaran berupa atsar yang memberikan ancaman yang lebih keras kepada pembaca Al-Qur’an yang lalai terhadap kandungannya. Seperti riwayat berikut:

Dari Anas bin Malik r.a. dari Nabi saw. Beliau bersabda:

الزَّبَانِيَةُ أَسْرَعُ إِلَى فَسَقَةِ الْقُرَاء مِنْهُمْ إِلَى عَبَدَةِ الأَوْثَان فَيَقُوْلُوْنَ يَبْدَأُ بِنَا قَبْلَ عَبَدَةِ الأَوْثَان فَيُقَالُ لَهُمْ لَيْسَ مَنْ يَعْلَمُ كَمَنْ لاَ يَعْلَمْ رواه الطبراني وأبو نعيم

Malaikat Zabaaniah (Malaikat yang menyiksa orang-orang yang berdosa di dalam neraka) lebih dekat kepada pembaca Al-Qur’an yang durhaka dibanding kepada penyembah berhala. Maka mereka berkata! Kenapa kami didahulukan untuk diseret ke dalam neraka daripada penyembah berhala. Maka Malaikat Zabaaniyah menjawab, terhadap pertanyaan mereka. Orang yang mengetahui hukum tidak sama dengan yang tidak mengetahui. (H.R.Thabrani dan Abu Na’im).

Atau riwayat lain dari Ahmad, beliau berkata: Aku mendengar Aba Sulaiman mengatakan:

اَلزَّبَانِيَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَسْرَعُ إِلَى حَمَلَةِ الْقُرْآن الذِيْنَ عَصَوْا الله بَعْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآن مِنْهُمْ إِلَى عَبَدَةِ الأَوْثَانِ غَضَبًا عَلَيْهِمْ حِيْنَ عَصَوْا الله بَعْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآن . اخرجه البيهقي

Malaikat Zabaaniyah pada hari kiamat lebih cepat menyeret pada pembawa Al-Qur’an, yaitu orang-orang yang tidak mentaati Allah setelah membaca Al-Qur’an daripada penyembah berhala, marah kepada mereka ketika mereka tidak mentaati Allah setelah membaca Al-Qur’an. (Ahrajahu Baihaqi).

Lembaga Pendidikan Al-Qur’an di Indonesia

Meski masih sederhana, sesungguhnya sejak zaman Rasulullah SAW telah ada lembaga pengajaran membaca Al-Qur’an. Semasa di Makkah, Rasulullah memiliki tempat pengajaran al-Qur'an di Dâr al-Arqâm yang terletak di kaki bukit Safâ dekat masjid al-Haram, tempat ini milik sahabat al-Arqam bin Abû Arqam. Pengajian al-Qur'an masih sembunyi-sembunyi dan Rasul biasa menyampaikan wahyu yang turun kepada mereka dan membacakan dihadapan mereka. Di Madinah, Rasulullah memiliki banyak tempat pengajian, ada yang disebut Dâr al-Qurra' (rumah para pembaca al-Qur'an) yaitu rumah milik Makrimah bin Naufal. Rumah ini adalah tempat tinggal sekaligus tempat belajar al-Qur'an. Ada juga yang disebut kuttab khusus bagi anak-anak. Kuttab sebenarnya sudah ada sebelum Islam, pada tahun kedua hijriah setelah perang Badr banyak tawanan Makkah yang mengajarkan baca tulis kepada kaum muslimin sebagai tebusan (Yakub, 2000: 136; Wajdi, 2008:52).

Sedangkan sejarah pengajaran membaca Al-Qur’an di Nusantara memang tidak mencatat secara jelas sejak kapan pertama kali terjadi pengajaran Al-Qur’an di Indonesia, namun para ahli tampaknya sepakat bahwa pengajaran Al-Qur’an di Indonesia seiring dengan masuknya Islam di Indonesia. Meski demikian, guru-guru Al-Qur’an di Indonesia yang memiliki sanad sampai ke Rasulullah SAW sebagaimana yang ditulis oleh Ahmad Fathoni menunjukkan bahwa pada tahun 1888, KH. Munawir belajar khusus Al-Qur’an selama 16 tahun di Makkah hingga hafal Al-Qur’an Qiraat Sab’ah dan memiliki sanad yang menyambung pada Rasulullah SAW. Meski demikian, para ulama yang menyebarkan Islam di wilayah Nusantara sebelum masa kolonial Belanda sudah banyak yang belajar di Mekkah, seperti Ainul Yaqin (Sunan Giri), Ja’far Shodiq (Sunan Qudus) dan sebagainya.

Metode pembelajaran membaca Al-Qur’an yang telah lama dikenal di Indonesia, sebagaimana digambarkan oleh Zamakhsari Dhofier dalam Tradisi Pesantren (1994) yang paling rendah bermulah pada waktu anak-anak berumur kira-kira 5 tahun. Anak-anak itu diajari oleh orangtuanya dengan cara menghafalkan beberapa surat pendek dari Juz 30 Al-Qur’an yang terakhir. Setelah mereka berumur 7 atau 8 tahun mulai diajarkan membaca alfabet Arab dan secara bertahap diajar untuk dapat membaca Al-Qur’an, umumnya menggunakan buku Kaidah Baghdadiyah. Jika bukan orangtuanya sendiri atau saudara-saudaranya yang mengajarkan, anak-anak tersebut belajar di rumah tetangga atau di langgar. Pelajaran biasanya diberikan setelah sembahyang Magrib. Program pengajaran ini biasanya berhenti setelah seorang anak dapat membaca sendiri Qur’an tersebut dengan lancar dan benar. Bagi beberapa anak dari keluarga tertentu (biasanya yang hidup berkecukupan dan mempunyai tali hubungan kekeluargaan dengan kyai atau guru ngaji) pendidikan pembacaan Qur’an ini hanya merupakan jenjang pertama. Mereka masih melanjutkan pelajaran untuk dapat membaca dan menerjemahkan buku-buku Islam klasik yang elementer yang ditulis dalam bahasa Arab (Dhofier, 1994:20).

Menurut laporan Pemerintah Belanda tahun 1831 tentang lembaga-lembaga pendidikan penduduk “Asli” Jawa bahwa jumlah lembaga-lembaga Islam tradisional—pengajian, pesantren, dan jumlah murid-murid beberapa wilayah kabupaten yang kuat keislamannya, yaitu: Cirebon, Semarang, Kendal, Demak, Grobogan, Kedu, Surabaya dan Mojokerto, Gresik, Bawean, Sumenep, Pamekasan, Besuki, dan Jepara. Van der Chijs mencatat bahwa sejumlah besar lembaga-lembaga ini mengajarkan tidak lebih dari pembacaan Qur’an dan hanya sebagian kecil murid diajar menulis Arab. Menurutnya, 4/5 dari jumlah lembaga tersebut merupakan lembaga pengajian dasar yang mengajarkan pembacaan Qur’an. (Dhofier, 1994: 35) .

Pesantren Tahfidz Al-Qur’an di Indonesia memiliki peran sangat penting dalam tradisi pengajaran tajwid di Indonesia. Sebab rata-rata pesantren tahfidz memiliki sanad pendidikan Al-Qur’an yang bersambung hingga ke Rasulullah SAW. Beberapa nama penting perintis Pesantren Tahfidz yang dicatat oleh Ahmad Fathoni antara lain: KH. M. Munawir Yogyakarta yang mendirikan pesantren tahfidz pada akhir tahun 1909, KH. Munawar mendirikan pesantren tahfidz di Sidayu Gresik pada tahun 1910, KH. Said Ismail mendirikan pesantren tahfidz di Madura pada 1917, dan lain-lain. Dari para tokoh tersebut lahir ulama-ulama ahli Al-Qur’an yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia yang bukan sekadar memberantas buta huruf Al-Qur’an, tetapi juga menghafal Al-Qur’an 30 juz, sekaligus tajwid serta penerapannya, bahkan murid-murid dan cucu muridnya menghasilkan buku-buku ilmu tajwid.

Perkembangan pengajaran Al-Qur’an di Indonesia saat ini menunjukkan perubahan yang sudah sangat jauh. Di hampir setiap kampung telah ada lembaga pengajaran pembacaan Al-Qur’an berupa TPQ/TKQ, bahkan masuk dalam sistem pendidikan nasional dan masuk dalam sekolah formal. Buku-buku acuan dalam pengajaran membaca Al-Qur’an dan tajwid di Indonesia pun semakin beragam, baik yang berasal dari Timur Tengah, yang menggunakan bahasa Arab, maupun dari Indonesia sendiri. Di antara buku-buku yang dijadikan sebagai buku ajar dalam membaca Al-Qur’an antara lain: metode Baghdadi, Iqra’, Qiraati, Al-Barqi, Tartili, Alif Laam Miim, dan sebagainya. Sedangkan buku-buku tentang ilmu tajwid kini telah banyak beredar, baik dalam edisi khusus maupun edisi pelengkap. Di Indonesia sendiri buku ilmu tajwid yang populer antara lain Matan Jazary karya Muhammad Ibnu Al-Jazari Al-Syafi’i, Kitab Mushthalah Tajwid (1971) karya KH. Abdullah Umar Semarang, keduanya disusun dalam bentuk syair. Sedangkan dalam bentuk pelengkap, seperti yang disisipkan dalam bagian awal atau akhir mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia telah dimasukkan materi ilmu tajwid secara khusus.

Meski telah banyak buku-buku metode membaca Al-Qur’an dan juga buku-buku ilmu tajwid, praktik pembelajaran Al-Qur’an bertajwid tetap mengandalkan guru sebagai faktor penting. Sebab, problem pengucapan huruf-huruf sesuai dengan standar tempat keluarnya huruf (makhraj), sifat-sifatnya (shifatu al-huruf), dan lain-lain masih membutuhkan pengecekan secara cermat dan teliti (tashih). Selain itu, ada beberapa kata (lafadz) yang memiliki cara-cara baca tertentu, berbeda dengan kata-kata yang lain, yang biasa disebut dengan gharib (jamak gharaib). Apabila hal ini tidak mendapat pengawasan dari guru, kemungkinan seseorang akan salah dalam mengucapkannya. Karena itu, para ulama tajwid mengategorikan dua jenis kesalahan: kesalahan yang samar (lahn khafy) dan kesalahan yang tampak (lahn jaly) (Ahmad, 1309H; Najib, 2011:36-37).

Taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ)/taman kanak-kanak Al-Qur’an (TKQ) di Indonesia merupakan hasil perkembangan pendidikan Al-Qur’an yang di mushalla atau masjid atau rumah-rumah masyarakat. Perkembangan ini tidak lepas dari peran KH. Dahlan Salim Zarkasi dari Semarang dan KH As’ad Humam dari Yogyakarta. KH Dahlan Salim Zarkasi berperan merintis berdirinya TK Al-Qur’an yang pertama, yaitu TK Al-Qur’an “Mujawwidin” di Semarang (1986) yang menggunakan metode “Qiroati”, sedang KH As’ad Humam bersama timnya, yaitu Tim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushola (AMM) Yogyakarta. Pada tanggal 16 Maret 1988, KH As’ad Humam mendirikan TK Al-Qur’an “AMM” di Yogjakarta yang menggunakan metode “Iqra” kemudian diikuti Taman Pendidikan Al-Qur’an “AMM”, Ta’limul Qur’an Lil Aulad “AMM”. Seiring dengan perkembangan tersebut, pemerintah mengeluarkan “Instruksi Menteri Agama Nomor 3 Tahun 1990 tentang Pelaksanaan Upaya Peningkatan dan Kemampuan Baca Tulis al-Qur'an)”, dan pemerintah juga mengeluarkan Pedoman Pembinaan TKQ/TPQ yang diterbitkan DitjenPendidikan Islam Kementerian Agama RI Tahun 2009.

Kebijakan pemerintah ini sangat erat kaitannya dengan perubahan UUD 1945 yang memasukkan klausul ketentuan dalam Pasal 31 ayat (3) yang berbunyi, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”. Pasal ini ditindaklanjuti dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang memasukkan pendidikan Agama dalam sistem pendidikan Nasional. Dengan dimasukkannya sistem pendidikan Islam dalam sistem pendidikan nasional berdampak positif bagi perkembangan pendidikan Al-Qur’an di Indonesia. Pemerintah pusat telah memberikan berbagai bentuk jenis bantuan sosial kepada TKQ/TPQ secara rutin (Kemenag, 2013). Beberapa daerah telah membentuk dan menfasilitasi adanya Forum Guru TKQ/TPQ untuk meningkatkan kualitasnya. Dan bahkan ada juga beberapa guru TKQ/TPQ yang mendapatkan beasiswa pendidikan di perguruan tinggi.

Talaqi-Musyafaha dan Teknologi

Sistem pengajaran Al-Qur’an menurut catatan Zamakhsyari Dhofier dilakukan pengajian dasar di rumah-rumah, di langgar dan di masjid diberikan secara individu (Dhofier, 1994: 28). Seorang murid mendatangi seorang guru yang akan membacakan beberapa baris Qur’an atau kitab-kitab bahasa Arab dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Jawa. Sistem individual ini dalam pendidikan Islam tradisional disebut sistem sorogan, yang diberikan dalam pengajian kepada murid-murid yang telah menguasai pembacaan Qur’an.

Sebagaimana zaman Rasulullah SAW, metode yang dikembangkan dalam mengajarkan Al-Qur’an dilakukan dengan cara talaqi-musyafaha. Metode Talaqi dilakukan dengan cara guru dan seorang murid atau lebih saling berhadap-hadapan, guru membacakan huruf atau lafadz atau ayat lalu diikuti oleh (para) murid. Metode Musyafaha dilakukan secara individu antara guru dan murid dengan cara menunjukkan mulut ketika mengucapkan huruf atau lafadz atau ayat sesuai dengan aturan tajwid.

Adapun dari segi cepat atau perlahan cara membaca Al-Qur’an dilakukan dengan empat model:


  1. At-Tahqiq: Membaca secara lambat dan perlahan, dengan sangat memperhatikan bunyi huruf dari makhraj dan sifatnya, menepatkan kadar bacaan mad dan dengung. Model ini biasanya bagi mereka yang baru belajar membaca Al Quran supaya dapat melatih lidah menyebut huruf dan sifat huruf dengan tepat dan betul.
  2. At-Tartil : Bacaannya perlahan-lahan, tenang dan melafazkan setiap huruf dari makhrajnya secara tepat serta menurut hukum-hukum bacaan tajwid dengan sempurna.
  3. Al-Hadar : Bacaan yang cepat serta memelihara hukum-hukum bacaan tajwid. Tingkatan bacaan hadar ini biasanya bagi mereka yang telah menghafal Al Quran, supaya mereka dapat mengulang bacaannya dalam waktu yang singkat.
  4. At-Tadwir : Bacaan yang pertengahan antara tingkatan bacaan tartil dan hadar, serta memelihara hukum-hukum tajwid.


Di beberapa tempat tertentu, pengajaran membaca Al-Qur’an untuk para pemula dilakukan dengan model Tahqiq. Untuk bisa melaksanakan model tahqiq ini seorang guru memang harus benar-benar menguasai makharijul huruf dan sifat-sifatnya, ketentuan dengung, dan panjang-pendeknya bacaan suatu lafadz. Model ini memang sangat cocok untuk orang-orang yang benar-benar mulai mengenal huruf hijaiyah. Namun, jumlah pengguna pengajaran model ini memang tidak populer di TPQ/TKQ, apalagi yang telah menggunakan metode-metode baca Al-Qur’an baru seperti Iqra’ atau lainnya, sehingga pengajaran tahqiq di Indonesia cukup jarang dilakukan karena dianggap berat dan terlalu berlebihan.

Model yang paling populer dilaksanakan adalah model tartil. Model ini dianggap lebih moderat, tidak terlalu memberatkan guru dan muridnya dan mengucapkan huruf-huruf yang benar-benar sesuai dengan makhrajnya. Model ini memang menjadi lebih cocok dengan perkembangan metode baca Al-Qur’an yang langsung berkharakat. Meskipun dianggap moderat, seorang guru memang dituntut untuk mengajarkan sesuai dengan hukum-hukum tajwid yang ada. Dan model bacaan tartil ini biasanya bagi mereka yang sudah mengenal makhraj-makhraj huruf, sifat-sifat huruf dan hukum-hukum tajwid. Sedangkan untuk model hadr dan tadwir seringkali dipakai untuk orang-orang yang sudah lancar membaca Al-Qur’an.

Perkembangan teknologi elektronik yang mampu merekam dan memutar pembacaan Al-Qur’an, tampaknya menjadi salah satu alternatif bagi kalangan masyarakat untuk belajar membaca Al-Qur’an dengan bertajwid. Satu sisi, masyarakat akan bisa menyimak bacaan-bacaan Al-Qur’an bertajwid yang berkualitas. Di sisi lain, alat elektronik memiliki kelemahan dalam mengoreksi bacaan masyarakat apakah sudah sesuai dengan apa yang dia dengar atau seakan-akan sesuai saja. Tidak jarang masyarakat yang hanya belajar pada alat-alat pemutar suara mengaji, lebih cenderung untuk memperhatikan lagu daripada ketentuan tajwidnya.

Teknologi lagi lain yang telah berkembang satu dekade terakhir adalah pemberian warna pada teks mushaf Al-Qur’an sebagai kode tajwid atau alat peraga. Kode warna itu memberikan tanda-tanda bunyi-bunyi tertentu seperti idhgham, ikhfa’, iqlab, dan qalqalah. Pemberian kode-kode tersebut memang sangat membantu bagi orang-orang yang sudah menguasi tajwid sebagi pengingat. Akan tetapi bagi orang yang belum mengerti, kode-kode itu kurang berguna serta tidak bisa menegur pembaca jika tidak melaksanakan pembacaan tajwid.

Keasingan Bahasa

Terdapat kesalahan umum dalam membaca Al-Qur’a terkait dengan tajwid. Moh. Najib Zaini (2011: 38) mencatat setidaknya empat kesalahan membaca yang mengakibatkan perubahan makna, yaitu: pertama, kesalahan membunyikan makhraj. Di antara kesalahan membunyikan makhraj ini terdapat 10 (sepuluh) jenis huruf yang paling sering dibaca salah, yaitu: ح)) dengan (خ) ; هـ)) dengan ح)); ق)) dengan ك)); ش)) dengan س)); ش)) dengan ص)); س)) dengan ص)); هـ)) dengan ح)); ع)) dengan أ)); ز)) dengan ج)); س)) dengan ث)). Kedua, kesalahan dalam panjang pendek bacaan. Ketiga, kesalahan tanda baca (harakat). Keempat, kesalahan berhenti dan memulai (waqaf wa ibtida’).

Kesalahan-kesalahan tersebut sangat lazim terjadi di Indonesia lebih dikarenakan problem bahasa. Kesalahan dalam pengucapan huruf-huruf yang sering saling tertukar pengucapannya dikarenakan budaya pengucapan bahasa sehari-hari dalam bahasa Arab tersebut tidak biasa atau dimiliki oleh sistem fonologi bahasa-bahasa di Indonesia. Sedangkan problem fonologi ini merupakan problem yang sangat kultural. Begitu juga kesalahan-kesalahan lain, sangat terkait dengan problem semantik (makna) dan semiologi (tanda).

Ketat-Longgar Sistem Penerapan Metode Tajwid

Penerapan metode membaca Al-Qur’an yang berkembang di Indonesia setidaknya dapat dikelompokkan dalam tiga bagian. Pertama, kelompok metode membaca Al-Qur’an terbuka atau longgar. Kelompok ini lebih menekankan pada target para pelajar dapat mengenal huruf-huruf hijaiyah dan mampu membacanya secara lancar. Tidak ada ketentuan atau persyaratan bagi guru untuk menguasai ilmu tajwid dan penerapannya. Siapapun yang dianggap bisa membaca aksara Arab, orang tersebut berhak untuk mengajarkan membaca Al-Qur’an. Buku-buku ajar yang dipergunakan dalam metode ini dijual bebas, seperti metode Baghdadi, metode Iqro’, dan lain-lain.

Kedua, kelompok metode membaca Al-Qur’an tertutup atau ketat. Kelompok ini bukan saja menekankan pada target para pelajar dapat membaca aksara Arab, tetapi juga harus sesuai dengan ketentuan tajwid. Para guru yang berhak mengajar harus mengikuti seleksi terlebih dahulu, bagi yang lulus dari ketentuan ini akan mendapatkan sertifikat atau syahadah. Bahkan penyelenggara TPQ/TKQ yang menggunakan metode ini harus mengikuti ketentuan-ketentuan tertentu yang telah ditetapkan oleh pengembang metode. Buku-buku ajar yang dipergunakan tidak dijual bebas di pasaran. Orang yang bisa membeli buku ini adalah orang yang telah memiliki sertifikat atau syahadah, seperti metode Qiroati. Di beberapa daerah seperti Gresik, diberlakukan uji tashih kelulusan santri TPQ/TKQ secara berjenjang, dari tingkat kecamatan hingga kabupaten. Jika para santri tidak mampu membaca Al-Qur'an secara bertajwid, maka mereka tidak diluluskan.

Ketiga, kelompok metode membaca Al-Qur’an moderat. Kelompok ini menerapkan di antara kedua kelompok sebelumnya. Target yang ingin dicapai oleh kelompok ini mengikuti kelompok kedua, yakni pelajar harus menguasai membaca Al-Qur’an dengan tajwid. Akan tetapi kelompok ini tidak menjual buku metodenya di pasaran umum. Bagi penyelenggara metode ini harus menguasai ilmu tajwid tetapi tidak seketat ketentuannya dengan kelompok kedua, seperti metode Alif Laam Miim. Namun demikian, ada juga penyelenggara TPQ/TKQ yang menggunakan buku ajar metode yang longgar, seperti Iqro’ atau Baghdadi, namun dalam pelaksanaannya para guru harus menerapkan ilmu tajwid yang cukup ketat.

Beberapa penelitian terhadap penerapan metode-metode membaca Al-Qur’an menunjukkan kurang maksimalnya para guru menjadi problem yang umum. Seperti yang ditemukan oleh Elis Tuti Winaningsih (2008) dalam penelitiannya tentang implementasi pembelajaran Qiroati di Yogyakarta menunjukkan bahwa beberapa kendala yang menghambat adalah karakter dari masing-masing pribadi siswa atau guru yang tidak mengikuti peraturan yang telah ditetapkan oleh Qiroati, kurangnya guru yang memenuhi kualifikasi/lulus syahadah, guru tidak mengikuti pembinaan rutin karena kesibukan tiap-tiap individu, waktu pengajaran dianggap kurang (2008: 121). Begitu juga temuan dari Zainap Hartati (2004) dari penelitiannya tentang penerapan Metode Iqra di Palangka Raya yang menyimpulkan bahwa beberapa fakor kurang maksimalnya penerapan metode Iqra disebabkan kemampuan dan latar belakang pendidikan guru, kebijakan pimpinan lembaga TKA atau TPA tertentu, kemampuan dan latar belakang santri, dan lingkungan sekitar TKA-TPA dan santri (2004:92).

Latar Belakang dan Disiplin Guru Ngaji

Walaupun terdapat kelompok metode yang ketat dan longgar, peran guru dalam menerapkan pelajaran tajwid sangat menentukan. Bagi guru yang memiliki kelonggaran dalam menerapkan kaidah tajwid, baik akibat tidak menguasai ilmu tajwid maupun yang menguasai ilmu tajwid, mereka akan mengajarkan sesuai dengan kemampuan murid. Mereka tidak terlalu memperhatikan muridnya dalam mengucapkan huruf-huruf sesuai dengan makharij atau sifat-sifat hurufnya. Mereka juga tidak terlalu memperdulikan jumlah harakat atau dengung-dengung bacaan lafadz-lafadz dalam Al-Qur’an. Bagi mereka, yang penting muridnya mau mengaji. Apa yang dilakukan oleh para wali songo pada masyarakat Jawa, misalnya, tidak memaksa muridnya untuk bisa mengucapkan huruf “’ain” secara ketat, namun mengajarkan dengan bunyi “ngain”. Begitu juga dalam penerapan kaidah-kaidah tajwid lainnya.

Sebaliknya, bagi guru yang memiliki latar belakang didikan dan penguasaan tajwid dari gurunya yang ketat memiliki kecenderungan untuk mengajarkan dan menerapkan tajwid secara ketat pula. Para guru ini memang biasanya mempelajari Al-Qur’an secara khusus pada guru-guru yang memiliki sanad, terutama di pesantren tahfidz Al-Qur’an. Untuk mengajarkan penerapan tajwid yang ketat, berbagai upaya dilakukan agar murid-muridnya benar-benar bisa menirukan dan mempraktikkan kaidah tajwid. Seperti melakukan ketukan ketika membaca mad atau berdengung dan mengulang-ulang pengucapan suatu huruf atau lafadz jika muridnya belum mampu mengucapkan sesuai dengan kaidah tajwid.

Tua-Muda: Usia Belajar Mengaji

Usia belajar mengaji di kawasan perkotaan menunjukkan trend banyaknya orang-orang berusia tua baru mulai belajar membaca Al-Qur’an. Kecenderungan ini diakibatkan oleh beberapa faktor, di antaranya: pertama, mereka yang baru masuk Islam setelah usia cukup tua. Kedua, mereka yang masa kecilnya tidak pernah mendapatkan pendidikan membaca Al-Qur’an, namun ketika usia sudah tua baru menyadari tentang pentingnya membaca Al-Qur’an. Ketiga, walaupun pada masa muda sempat belajar membaca Al-Qur’an, namun karena kesibukan dan/atau lingkungannya dia berhenti membaca Al-Qur’an, dan ketika tua keinginannya membaca Al-Qur’an bangkit kembali.

Para guru yang mengajarkan mengaji kepada orang-orang yang sudah dewasa atau tua menghadapi kendala mengajarkan penerapan tajwid. Meski demikian, para guru tersebut membedakan kecepatan dan ketepatan para orang dewasa atau tua itu dalam menguasai penerapan tajwid ketika membaca Al-Qur’an. Bagi orang tua atau dewasa yang pada masa mudanya sempat belajar, namun berhenti, pengajarannya lebih mudah dibanding orang tua atau dewasa yang belum pernah sama sekali mengucapkan huruf-huruf hijaiyah sesuai dengan tajwid.

Masyarakat Tajwid dan Non-Tajwid

Penduduk Indonesia yang menganut agama Islam saat ini diperkirakan mencapai 87 persen. Meski demikian, dari seluruh penganut agama Islam tersebut memiliki keragaman dari aspek tingkat pemahaman dan ketaatannya dalam menjalankan ajaran Islam. Hal ini sangat erat kaitannya dengan sejarah penyebaran Islam di Indonesia, yang memiliki wilayah yang luas dan kultur yang beragam. Penerimaan ajaran Islam di tiap-tiap wilayah Indonesia pun sangat tergantung ketataannya dalam memegang kultur yang berjalan di wilayahnya masing-masing, apalagi hal ini juga terkait dengan problem politik masing-masing kawasan. Di Jawa, misalnya, Clifford Geertz mengelompokkan penganut Islam dalam kelompok santri dan abangan. Kelompok santri diidentikkan dengan praktik Islam ortodoks (syariat), sedangkan kelompok abangan lebih memiliki kecenderungan pada keyakinan lokal. Kedua kelompok di Jawa tersebut saja, memiliki kecenderungan yang berbeda dalam menyikapi pembacaan Al-Qur’an, termasuk bertajwid atau tidak.

Faktor aturan ketat-longgar dalam penerapan ilmu tajwid dalam pengajaran Al-Qur’an di berbagai TPQ/TKQ tidak lepas dari faktor lingkungan masyarakat tempat pengajaran Al-Qur’an tersebut. Di kawasan yang memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya tajwid dalam membaca Al-Qur’an, seperti masyarakat yang dominan santri, penerapan ilmu tajwid menjadi penting. Apalagi para guru atau penyelenggara TPQ/TKQ di kawasan tersebut memang telah menguasai dan mampu menerapkan ilmu tajwid. Walaupun tidak menggunakan metode yang ketat seperti metode Qiro’ati, para guru dan penyelenggara TPQ/TKQ akan berusaha untuk mengontrol bacaan tajwid para muridnya.

Tradisi tadarus Al-Qur’an yang dikumandangkan melalui alat pengeras suara yang dilakukan oleh para santri mengaji di TPQ/TKQ kadang menjadi perhatian lingkungan masyarakat di kawasan tersebut. Ketika para santri yang bertadarus kurang memperhatikan tajwid, lingkungan masyarakat yang telah terbiasa dengan bacaan Al-Qur’an bertajwid seringkali menegur penyelenggara TPQ/TKQ atau para gurunya, karena dianggap tidak mengajarkan tajwid dalam membaca Al-Qur’an.

Sebaliknya, di kalangan masyarakat yang rata-rata kurang memiliki penguasaan tajwid, mereka kurang peduli terhadap penerapan tajwid dalam membaca Al-Qur’an. Bagi mereka, orang yang mau belajar dan membaca Al-Qur’an saja sudah dianggap baik. Persoalan mereka tidak membaca Al-Qur’an dengan tajwid bukanlah hal yang utama. Mereka juga tidak bisa membedakan apakah bacaan Al-Qur’an itu sudah benar atau salah sama sekali. Apalagi dikaitkan dengan bahasa Arab yang memang tidak pernah mereka mengerti maknanya sama sekali. Karena itu, membaca Al-Qur’an bukanlah persoalan benar-tidaknya bacaannya, tetapi mau dan bisa membaca aksara Arab sudah dianggap mendapatkan keutamaan membaca Al-Qur’an.

Kesimpulan

Meskipun terdapat ketentuan membaca Al-Qur’an harus bertajwid bukan berarti seluruh umat Islam bisa menerapkannya. Bertajwid dalam membaca Al-Qur’an dalam ajaran Islam menurut para ulama memang fardlu ain, dan berdosa bagi yang tidak melaksanakan. Walaupun para ulama sepakat tentang kewajiban bertajwid ini, namun sifat wajib dalam bertajwid tampaknya memang mendapat perhatian yang berbeda dengan kewajiban-kewajiban lain seperti wajibnya salat atau puasa maupun zakat. Dalil-dalil kewajiban bertajwid, walaupun bersumber dari Al-Qur’an, namun diaggap kurang bersifat jelas. Penafsiran terhadap ayat “warattilil qur’ana tartila” sebagai kewajiban membaca Al-Qur’an harus bertajwid, sebagaimana ungkapan Sahabat Ali bin Abi Thalib RA, tampaknya kurang bisa diterima bagi sebagian masyarakat awam yang tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari atau masyarakat yang tidak bisa memahami makna Al-Qur’an yang menggunakan bahasa Arab. Hal ini dikarenakan maksud dari penerapan tajwid dalam membaca Al-Qur’an adalah agar makna Al-Qur’an tidak berubah ketika dibaca atau didengarkan. Sedangkan bagi sebagian besar masyarakat Islam awam yang tidak menggunakan atau tidak mengerti bahasa Arab, seperti di Indonesia, sudah bisa membaca Al-Qur’an tanpa bertajwid saja sudah merasa sangat beruntung.

Meski 87 persen jumlah penganut agama Islam di Indonesia, namun pemeluk Islam di Indonesia tidak seluruhnya memahami dan menganggap penting membaca Al-Qur’an secara bertajwid. Wacana tentang ajaran Islam di Indonesia sampai saat ini masih didominasi oleh materi akidah atau teologi dan fiqih atau hukum dalam menjalankan ibadah-ibadah mahdlah lain. Selain itu, sebagaimana sejarah masuknya Islam di Indonesia juga sangat dipengaruhi oleh ajaran-ajaran tasawuf yang lebih menekankan pada dimensi asketisme. Dengan kondisi yang demikian, wacana tentang membaca Al-Qur’an secara bertajwid belum mendapatkan porsi yang cukup untuk mempengaruhi hasrat masyarakat muslim di Indonesia untuk belajar Al-Qur’an secara bertajwid (Denny, 1989: 5-6).

Peran negara yang memberikan perhatian terhadap pendidikan Al-Qur’an sebenarnya memberikan pengaruh yang signifikan bagi pendidikan penerapan tajwid dalam membaca Al-Qur’an, namun rasio tenaga pengajar Al-Qur’an yang benar-benar memiliki konsentrasi terhadap penerapan tajwid dengan jumlah penduduk muslimnya masih cukup berjarak. Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam media massa (2014) menyatakan bahwa saat ini ada lebih dari 25 juta remaja Islam di Indonesia, dan hampir sebagaian mereka minim mendapatkan pengajaran membaca Al-Qur’an. Dia juga mengatakan perlunya training of trainer para guru mengaji yang ada saat ini untuk meningkatkan metode membaca Alquran. Apalagi di saat ini sudah berbagai macam metode, alat peraga dan alat pengajaran elektronik membaca Al-Qur’an yang berkembang sangat baik. Ia juga menegaskan akan mengaktifkan berbagai sumber daya manusia (SDM) di bidang keagamaan.

Daftar Pustaka

Al-Jazary, Ahmad bin Muhammad. (1309H). al-Hawasyi al-Mufhimah fi Syarah al-Muqaddimah al-Jazriyah
Benedict, Ruth. (1960), Pola2 Kebudajaan. Djakarta: Penerbit Pustaka Rakjat
Denny, Frederick Mathewson. (1989). Qur’ān Recitation: A Tradition of Oral Performance and Transmission. Oral Tradition, 4/1-2: 5-26
Dhofier, Zamakhsyari (1994). Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES cet. Keenam.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam. (2013). Juknis dan Bantuan Sosial TKQ/TPQ. Jakarta: Kementerian Agama RI.
Ember, Carol. R, Malvin Ember, Peter N. Peregrine. (2007), Anthropology, New Jersey: Pearson Education 12th. Ed.
Fathoni, Ahmad. (tt) Sejarah dan Perkembangan Pengajaran Tahfidz Al-Quran di Indonesia. Artikel (www. baq.or.id) diakses 24/06/2013
Geertz, Clifford. (1973) Thick Description: Toward an Interpretative Theory of Culture. Dalam The Interpretative of Culture: Selected Essays. New York Basic, Inc. Publishers hal. 3-30
Hartati, Zainap. (2004). Penerapan Metode Iqro’ dalam Belajar Membaca Al-Qur’an: Studi tentang Penerapan Metode lqra di TKA-TPA BKPRMI Kota Palangka Raya, Kalimanta Tengah. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat Vol. I. Nomor 2, Desember 2004. Hal. 79-94
Marzali, Amri. (2005), Dimensi Sosiokultural dalam Pembangan, dalam Antropologi dan Pembangunan Indonesia. Jakarta: Kencana. Hal 61-86
Umar, Nasaruddin, (2014) RI Krisis Guru 'Ngaji', Republika 03 April 2014.
Wajdi, Farid (2008) Tahfîz al-Qur'an dalam Kajian ‘Ûlum Al-Qur'an; Studi Atas Berbagai Metode Tahfîz: Jakarta UIN Syarif Hidayatullah
Winaningsih, Elis Tuti (2008). Implementasi Metode Qiraati dalam Pembelajaran Al-Qur’an di Sekolah Dasar Islam Terpadu Salman Al-Farisi.Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga
Yakub, Ali Mustafa, (2000) Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, Jakarta: Pustaka Firdaus.
Zaini, Moh. Najib. (2011). Mengaapa Baca Al-Qur’an Harus Bertajwid?. Bekasi: Bait Ahlil Qur’an

Tidak ada komentar